Menanam Pohon di Ambang Kiamat: Dialog Teologi Hadis Nabi dengan Pemikiran Filsuf Dunia
Administrator
27 Mar 2026, 06:36 WIB
5 x Dibaca
Dalam khazanah literatur Islam, terdapat sebuah hadis yang sangat paradoks namun mencerahkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa sekalipun kiamat sudah di depan mata, jika di tangan kita ada bibit kurma, kita diperintahkan untuk tetap menanamnya.
Pesan ini melampaui sekadar anjuran bercocok tanam; ini adalah sebuah pernyataan filosofis tentang etika kerja, harapan, dan tanggung jawab moral. Mari kita lihat bagaimana pandangan para filsuf besar bersinggungan dengan teologi hadis ini.
1. Immanuel Kant: Kategoris Imperatif dan Kewajiban Moral
Filsuf Jerman, Immanuel Kant, memiliki konsep terkenal bernama Categorical Imperative. Bagi Kant, seseorang harus bertindak berdasarkan prinsip yang ia harapkan bisa menjadi hukum universal, tanpa mempedulikan hasil akhirnya.
Dalam konteks hadis ini, menanam pohon saat kiamat adalah bentuk "Kewajiban demi Kewajiban" (Duty for duty's sake). Kant akan setuju bahwa kebaikan tidak boleh bergantung pada apakah kita akan menikmati hasilnya. Menanam pohon adalah tindakan moral yang benar secara inheren, terlepas dari apakah dunia akan hancur semenit kemudian.
2. Albert Camus dan Absurdisme: Melawan Keputusasaan
Albert Camus, tokoh eksistensialisme dan absurdisme, mungkin akan melihat hadis ini sebagai jawaban atas "keabsurdan" hidup. Bagi Camus, dunia seringkali terasa tidak masuk akal (absurd). Namun, cara manusia menangani keabsurdan itu adalah dengan terus berjuang dan mencipta.
Tindakan menanam bibit kurma di tengah kehancuran kosmos adalah bentuk pemberontakan terhadap keputusasaan. Sama seperti mitos Sisyphus yang terus mendorong batu ke atas bukit, manusia dalam hadis ini memilih untuk tetap menjadi "subjek yang beraksi" daripada "objek yang pasrah" pada kehancuran.
3. Martin Luther: Iman yang Aktif
Meskipun seorang teolog, pemikiran Martin Luther sering dikutip dalam diskusi filsafat agama. Ada sebuah kutipan terkenal yang sering diatribusikan kepadanya (yang sangat selaras dengan hadis ini):
"Even if I knew that tomorrow the world would go to pieces, I would still plant my apple tree."
Secara teologis, baik dalam Islam maupun pemikiran reformasi, ini menunjukkan bahwa iman bukanlah pasivitas. Iman adalah kerja nyata. Kiamat adalah urusan Tuhan, sementara menanam adalah tugas manusia. Hadis ini memisahkan antara "hasil" (yang merupakan hak prerogatif Tuhan) dan "proses" (yang merupakan tanggung jawab manusia).
4. Etika Lingkungan dan Keberlanjutan (Eco-Theology)
Dari sisi filsafat lingkungan, hadis ini menempatkan manusia sebagai Khalifah (pengelola) bumi hingga detik terakhir.
Altruisme Murni: Menanam kurma butuh waktu bertahun-tahun untuk berbuah. Menanamnya di hari kiamat berarti kita melakukan kebaikan yang benar-benar tidak egois, karena tidak ada manusia yang akan memakan buahnya.
Keberlanjutan: Ini adalah bentuk tertinggi dari etika lingkungan; menjaga alam bukan karena manfaat ekonomi, tapi karena itu adalah amanah sakral.
Kesimpulan: Optimisme Radikal
Secara teologis, hadis ini mengajarkan bahwa dalam Islam, akhir zaman bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Filsafat di balik hadis ini adalah "Optimisme Radikal". Dunia mungkin berakhir, tetapi nilai dari sebuah perbuatan baik bersifat abadi (sub specie aeternitatis).
Hadis ini menantang kita: Di tengah krisis global, perang, atau bencana, apakah kita akan memilih layu sebelum waktunya, atau tetap menjadi tangan yang menanam kehidupan?